sobat berada di blognya guru geografi di Bandung

08 Januari 2008

UU No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana

Anda mau tahu tentang penanggulangan bencana, baca UU No. 24 Tahun 2007,

SKL Geografi UN 2008


SKL Geografi SMA/MA untuk UN 2008.





27 Desember 2007

NPSN Tak Signifikan Mendorong Mutu Pendidikan

GALAMEDIA 27 DESEMBER 2007

RADJIMAN, (GM).-
Dinas Pendidikan Jawa Barat fokus pada sekolah berstandar internasional (SBI). Sekalipun ada program nomor pokok sekolah nasional (NPSN) yang diluncurkan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), namun program tersebut belum begitu dikenal di Jawa Barat.


"Selain itu, manfaat dari NPSN pun belum begitu jelas untuk apa bagi sekolah. Kita sekarang sedang fokus pada program SBI," ungkap Kasubdin Pendidikan Menengah Tinggi (Dikmenti) Dinas Pendidikan Jabar, Syarif Hidayat ketika dimintai komentarnya mengenai program NPSN di Jabar, Rabu (26/12).

Menurutnya, program NPSN tidak begitu signifikan untuk mendorong peningkatan mutu pendidikan di Jabar. Sebab, lanjutnya, untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Jabar sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 Tahun 2007, ada tiga kategori sekolah yang bisa mendorong peningkatan kualitas pendidikan, yakni kategori standar sekolah, sekolah standar nasional (SSN) atau mandiri, dan sekolah berstandar internasional (SBI).

"Penerapan ketiga kategori ini, dirasakan sangat signifikan untuk mendorong peningkatan kualitas suatu sekolah di Jabar," ujar Syarif.

Di Jabar, katanya, jumlah sekolah menengah atas (SMA) yang sudah berstandar internasional (SBI) mencapai 33 SMA, sedangkan sekolah menengah kejuruan (SMK) SBI mencapai 16 SMK, sepuluh sekolah menengah pertama (SMP) SBI dan dua sekolah dasar (SD) SBI. Sedangkan sekolah yang sudah masuk kategori SSN (mandiri) mencapai 45 SMA dan 75 SMK.

"Namun saya kurang tahu, berapa SMP dan SD yang sudah masuk sekolah mandiri (SSN) di Jabar," ujarnya.

Masih kurangnya sekolah di Jabar yang masuk kategori SBI, pihaknya akan mengusahakan seluruh sekolah di Jabar masuk kategori SBI mulai tahun depan. Untuk mengarah ke kategori SBI di Jabar, lanjutnya, Dinas Pendidikan Jabar telah mengajukan anggaran sebesar Rp 18 miliar ke pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Sedangkan anggaran untuk SD SBI, tambahnya, bergantung kesiapan anggaran dari pemerintah daerah (kabupaten/kota).

"Nantinya anggaran ini akan diberikan secara grand ke setiap sekolah. Anggaran yang diajukan tersebut, yakni untuk tingkat SMA/K sebesar Rp 13 miliar dan Rp 5 miliar untuk tingkat SMP, di mana setiap sekolah akan mendapat dana grand sebesar Rp 1 juta," paparnya.

Dijelaskan Syarif, dikembangkannya SBI di Jabar ini sesuai dengan PP No. 38 Tahun 2007, yang menyatakan seluruh sekolah di Indonesia berbasis informasi dan teknologi (IT) dan bahasa Inggris. Karena itu, katanya, Disdik Jabar menargetkan pada tahun 2009 sebanyak 60% dari sekolah yang ada di Jabar bisa masuk kategori SBI.

"Untuk tahun 2008 ini, kami akan melakukan evaluasi terhadap sekolah-sekolah yang sudah SBI. Mungkin mulai tahun 2009, kita usahakan 60% dari sekolah yang ada di Jabar bisa masuk kategori SBI," tuturnya.

Namun, jelasnya, sebelum masuk kategori SBI, seluruh sekolah di Jabar harus masuk bisa masuk kategori sekolah mandiri (SSN). Pada 2008 nanti, sekitar 275 SMA dan SMK di Jabar harus sudah masuk kategori sekolah mandiri (SSN).

"Jadi sebelum masuk kategori SBI, sekolah-sekolah di Jabar harus bisa masuk dulu pada kategori sekolah mandiri (SSN). Mudah-mudahan, tahun 2008, jumlah sekolah yang masuk kategori SSN bisa bertambah secara signifikan. Sedangkan sekolah yang menuju SBI, diusahakan ada setiap tahun, minimal tiga sampai lima sekolah," paparnya lagi. (B.81)**

14 Desember 2007

2008 Tunisia


The next International Geography Olympiad will be held in Carthage, Tunisia, from August 7 to 12, 2008 in conjunction with the congress of the International Geographical Union.


The 2008 Olympiad will be hosted by the Tunisian Association of Geographers. Queries, or expressions of interest, should be sent to Zouhaier HLAOUI: tn_geo_olympiade@yahoo.fr.

Students must be selected through a national geography competition. The official language of the Olympiad is English. Under the heading 'What is GeoOlympiad' you will find the statutes with a lot of information about the International Geography Olympiad.

Under the heading '2008 Tunisia' you will find more information about the coming Olympiad.

For general information please contact h.ankone@slo.nl or j.vanderschee@ond.vu.nl

International Geography Olympiad

The 7th International Geography Olympiad will be held in Carthage, Tunisia, from 7 to 12 August 2008. This international contest, held every two years, is organised by the International Geographical Union Olympiad Task Force. Olympiads engage senior secondary students from all around the world in a week of tests, excursions and friendship.



Australia's team to the 2008 Olympiad will be selected from students who compete in the senior level of the 2007 and 2008 Australian competitions. It is not yet confirmed if teams will consist of three or four students.

The 6th International Geography Olympiad was held in Brisbane, from 28 June to 3 July 2006. Australia's team was made up of students from our 2005 and 2005 competitions:

Michael Bishop, Northern Beaches Secondary College Manly Campus, Sydney
Jennifer Broadbent, St Catherine's School, Sydney
Samuel May, Pittwater House Grammar School, Sydney
David Smith, Marist College, Canberra

The 2006 Olympiad was hosted by the Australian competition organisers and complete information, including photos, is on our 2006 Olympiad website.

KINERJA GURU DI KOTA BANDUNG AKAN DIEVALUASI




AHMAD YANI, (GM).-
Dinas Pendidikan Kota Bandung akan melakukan evaluasi kinerja dan proses pembelajaran guru. Langkah itu dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kota Bandung.


Hal itu disampaikan Wakil Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Evi S. Shaleha seusai melakukan studi banding ke sekolah di tiga wilayah, yakni Indo Asia Global di Batam, Sekolah Indonesia di Malaysia, dan Matayam Suiteru Anuson Thailand beberapa waktu lalu. Menurutnya, kemajuan pendidikan secara kualitas di tiga tempat itu akibat kuatnya sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan proses pembelajaran yang efektif.

"Harus diakui, SDM pengajar di ketiga wilayah itu memang unggul sehingga apa yang dikeluarkannya pun menjadi berkualitas. Misalnya saja, SDM pengajar yang memiliki pengetahuan cukup di bidangnya," ujar Evi kepada wartawan di ruang kerjanya, Jln. Ahmad Yani Bandung, Kamis (13/12).

Selanjutnya, proses pembelajaran yang efektif. Dicontohkannya, tersedianya ruang khusus untuk mata bidang pelajaran yang dianggap rumit, misalnya matematika. Di ruang kelas tersebut, ruangannya diset disesuaikan dengan kebutuhan pengajaran. "Ruang kelasnya tetap ada, namun untuk matematika ini berbeda. Dan ini tersedia sejak di sekolah pendidikan dasar. Tidak hanya di sekolah menengah lanjutan," ucapnya seraya mengatakan, sedangkan untuk ruang tambahan pembelajaran lainnya sama seperti sekolah di Kota Bandung, yakni tersedianya ruang lab kimia atau fisika.

Keefektifan itu, katanya, ditunjang dengan SDM para pengajar yang mau diajak berdiskusi untuk dilakukan evaluasi yang dilakukan setiap satu minggu sekali. Kondisi itu berbeda dengan di sekolah Kota Bandung. "Undangan untuk rapat saja, kadang-kadang tidak semua hadir. Nah ini dilakukan setiap minggu untuk melihat sejauh mana perkembangan anak," paparnya.

Penghargaan

Dari hasil evaluasi kegiatan studi banding itu, menurut Evi, ada beberapa hal yang patut dilakukan, yakni dengan melakukan strategi pengembangan SDM dan peningkatan proses pembelajaran. Program itu sendiri kini tengah dirancangnya.

Sedangkan mengenai hal lainnya, katanya, akan ada langkah dengan meniru apa yang dilakukan di tiga sekolah itu, yakni pada upaya untuk menumbuhkembangkan dan meningkatkan motivasi anak dalam berkarya, yakni dengan memajang karya anak di ruang pajang.

'Langkah itu yang agak mudah dilakukan. Karena tidak berbeda jauh, kita pun sebenarnya punya mading (majalah dinding, red). Tapi ini agak berbeda sedikit dan itu yang akan dibenahi dulu. Karena ternyata dalam pengelolaan mading itu diperlukan SDM yang mengerti," tambahnya. (B.107)**

10 Desember 2007

BANDUNG [sering] m a c e t


Mungkin bagi mereka yang dulu mengenal Bandung sebagai kota kembang nan sejuk nan damai akan frustasi ketika sedang berada di jalanan kota ini. Kemacetan di mana-mana. Dari mulai tengah kota sampai ke pinggiran kota seperti Ciwastra, Cicaheum, Cibeureum, terlebih lagi di kawasan Kopo dan Buah Batu. Gerak sepeda motor, mobil, terlebih lagi ANGKOT memperlihatkan "ketidakwarasan" pengemudinya. Bagi mereka UU Lalu Lintas tidak ada artinya, lihat saja ANGKOT yang ngetem di sembarang tempat, menaikan dan menurunkan penumpang tanpa minggir ke tepi jalan, kejar-kejaran dengan setoran.

Siapapun yang menjadi Walikota Bandung periode 2008-2013 yang akan datang, WAJIB memperhatikan ini agar Bandung kembali menjadi kota yang "sejuk".